ZAKAT DAN PENDIDIKAN

web administrator fitk No Comments »

Menurut informasi bahwa potensi zakat di Indonesia pertahun sekitar 100 triliyun. Namun dalam kenyataan potensi tersebut baru dapat digali sekitar 1,2 triliyun. Telah banyak kajian para ahli tentang sebab-sebab mengapa potensi zakat tersebut belum dapat dieksplorasi secara maksimal. Padahal zakat memiliki kedudukan hukum yang jelas (wajib); bentuk dan ragam harta yang perlu dizakati sudah jelas, yakni barang simpanan berharga (emas dan perak), hewan ternak tertentu, tanaman atau hasil pertanian tertentu, dan barang dagangan; hikmah zakat yang cukup beragam:membersihkan diri orang yang berzakat, menumbuh-kembangkan harta yang dimiliki, mengatasi kemiskinan, mendekatkan jarak antara kaum yang kaya dan miskin, serta mendatangkan kehudupan yang semakin berkah; referensi untuk menjelaskan masalah zakat sudah banyak, dan para pakar dalam bidang zakat juga cukup banyak.

Di antara penyebab zakat tersebut belum dapat digali secara maksimal antara lain adalah karena kesadaran masyarakat untuk berzakat masih rendah; dukungan dari penguasa yang belum merata (ada pemerintah yang sudah mendukung sepenuhnya tentang zakat, ada yang setengah hati, dan ada yang belum memahaminya dengan baik), serta belum adanya kemampuan dari para pengelola zakat untuk menanganinya secara profesional, kredibel dan amanah.

Jika potensi zakat tersebut berhasil digali, maka banyak masalah pendidikan yang dapat dipecahkan, seperti masalah pemerataan pendidikan (wajib belajar), meningkatkan mutu pendidikan bertarap nasional dan internasional, mengefektifkan fungsi pendidikan agama, meningkatkan mutu tenaga pendidik, peningkatan kesejahteraan para guru, terutama para guru honorer, dan sebagainya.

Berdasarkan informasi sejarah Islam, bahwa zakat di zaman klasik banyak digunakan untuk mengatasi program jangka pendek yang bersifat konsumtif, sedangkan di zaman modern, zakat di berbagai negara Islam sudah digunakan untuk pembiayaan pendidikan sebagaimana diatur dalam surat al-Taubah ayat 60: Sesungguhnya zakat itu untuk fakir, miskin, amil, mu’allaf, hamba sahaya (al-riqab), orang yang berhutang (al-gharimin), ibn sabil dan fi sabilillah. Kegiatan pendidikan Islam dapat dimasukan ke dalam kegiatan Ibn Sabil dan fi sabilillah. Semoga di masa depan zakat lebih digali lagi dan digunakan sebagai alternatif biaya pendidikan.

Lulusan Pendidikan Islam Lebih Siap Memasuki Lapangan Kerja

web administrator fitk No Comments »

Secara kelembagaan pendidikan Islam terdiri dari Raudlat al-Athfal (Taman Kanak-kanak), Ib tidaiyah  (pendidikan dasar)  hingga perguruan tinggi, seperti IAIN dan UIN. Kesan masyarakat terhadap lulusan pendidikan Islam hingga saat ini, pada umumnya masih mencerminkan kesan terhadap pendidikan Islam tahun 50-an, yaitu bahwa lulusan pendidikan Islam hanya menguasai ilmu agama Islam, pandai mengaji, beribadah, berakhlak mulia, dan mengurusi masalah-masalah keagamaan, seperti  pengajian, memimpin do’a, dan khutbah.

Kesan masyarakat terhadap lulusan pendidikan Islam yang demikian itu, saat ini sungguh sudah tidak tepat lagi. Lulusan pendidikan Islam saat ini selain ada yang memiliki keahlian dalam bidang urusan keagamaan, juga memiliki keahlian dalam bidang kehidupan yang lebih luas Lulusan pendidikan Islam saat ini sudah mencerminkan tujuan hidup dalam Islam, yakni mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan cara menjadi khalifah di muka bumi dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Pendidikan Islam sampai tahun 50-an secara umum memang masih dikhotomis dalam berbagai aspeknya. Dalam bidang kurikulum misalnya,  masih kurang menganggap penting ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Dan dalam segi yuridis masih belum masuk ke dalam sistem pendidikan nasional. Tapi kini keadaannya sudah jauh berbeda. Hal-hal yang dahulu dianggap sebagai bukan bidang garapan pendidikan Islam, kini sudah termasuk bagian integral dari pendidikan Islam, atau sesuatu yang dahulu dianggap sebagai fardlu kifayah, kini sudah dianggap sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan setelah  fardlu ’ain.

Saat ini lulusan pendidikan Islam sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, namun  belum banyak diketahui  masyarakat, termasuk kalangan dunia usaha,  industri dan jasa. Lulusan pendidikan Islam saat ini sudah banyak yang menguasai bidang umum, seperti materimaka, fisika, biologi, komputer, bahasa Inggris, ekonomi, psikologi, sosiologi, antropologi, sejarah, kedokteran dan sebagainya. Hal ini sudah memenuhi harapan para penggagas berdirinya lembaga pendidikan tinggi Islam, seperti Dr. Satiman, Mohammad Natsir dan Bung Hatta. Pada tahun 50-an  mereka mencita-citakan agar lulusan pendidikan tinggi Islam bukan hanya menguasai ilmu-ilmu masjid, tapi juga ilmu umum/keduniaan;  tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga menguasai ilmu-ilmu bantu, seperti filsafat, sejarah, sosiologi, dan antropologi.

Timbulnya kemajuan pada lulusan pendidikan Islam  itu terjadi, antara lain disebabkan setelah adanya integrasi dalam bidang kurikulum, peraturan perundang-undang, dan anggaran. Integrasi pendidikan Islam  dengan pendidikan umum mulai  terjadi sejak keluarnya Surat Keputusan Bersama  3 Menteri (SKB 3 Menteri), yaitu Menteri Agama, Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Dalam Negeri pada tahun 1975. Dalam SKB tersebut dinyatakan, bahwa kurikulum Madrasah, mulai Ibtidaiyah sampai Aliyah harus memuat 70% pengetahuan umum dan 30% pengetahuan agama. Demikian pula pada pendidikan umum-pun harus mencantumkan mata pelajaran agama. Dengan SKB ini, maka lulusan Madrasah Ibtidaiyah selain dapat melanjutkan ke Tsanawiyah, juga dapat melanjutkan ke Sekolah Menengah Umum. Sebaliknya t lulusan Sekolah Dasar pun dapat melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah. Selanjutnya lulusan Madrasah Aliyah tidak hanya dapat melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), melainkan juga dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi Umum (PTU), seperti UI, UGM, ITB dan sebagainya. Sejarah mencatat, bahwa tiga  tahun kemudian, setelah keluarnya SKB 3 Menteri, yakni pada tahun 1978 sudah ada lulusan Madrasah Aliyah yang melanjutkan kuliah  ke  IPB. Tidak hanya itu, SKB 3 Menteri juga mengharuskan pemerintah memberikan pengakuan terhadap ijazah madrasah,  memberikan bantuan tenaga guru madrasah, bantuan finansial, peralatan belajar mengajar, kemudahan perizinan dan sebagainya.

Selanjutnya integrasi pendidikan Islam   ke dalam bidang peraturan perundang-undangan terjadi sejak keluarnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dengan keluarnya undang-undang tersebut, maka kedudukan pendidikan Islam (madrasah dan perguruan tinggi agama Islam) yang berada di bawah Departemen Agama sudah memiliki kekuatan hukum yang sama dan sejajar dengan kedudukan sekolah dan perguruan tinggi umum yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional. Sebagai konsekwensi dari undang-undang tersebut, maka terjadi pula integrasi dalam hal anggaran, standar nasional pendidikan,  pengadaan tenaga pendidik dan kependidikan, akreditasi, evaluasi dan lain sebagainya.

Kemudian setelah keluarnya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka yang terintegrasi ke dalam sistem pendidikan nasional, bukan hanya madrasah dengan pola SKB 3 Menteri atau madrasah sebagai sekolah agama yang berciri keislaman, melainkan juga pendidikan keagamaan, yakni Madrasah Diniyah dan Ma’had Ali, termasuk di dalamnya pesantren. Dengan keluarnya UU No.20 Tahun 2003 ini, maka pendidikan Islam benar-benar sudah terintegrasi secara total ke dalam sistem pendidikan nasional, kecuali dalam hal kelembagaan. Pendidikan Islam dengan beragam macamnya itu masih berada di bawah naungan Departemen Agana. Sedangkan pendidikan umum berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional.

Integrasi di bidang pengelolaan pendidikan Islam agar berada di bawah satu atap dengan pendidikan yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional,  sampai saat ini belum terjadi. Pro kontra tentang integrasi pengelolaan pendidikan  ini  masih terus berlanjut hingga sekarang. Akan tetapi, sungguhpun integrasi pengelolaan pendidikan Islam ke dalam naungan Departemen Pendidikan Nasional ini belum terjadi, namun beberapa pejabat penting yang mengurusi pendidikan Islam di Departemen Agama sudah banyak yang berasal dari orang-orang Departemen Pendidikan Nasional. Sekretaris Jenderal dan Direktur Jenderal Kelembagaan  Agama Islam Departemen Agama misalnya adalah orang-orang yang berasal dari Departemen Pendidikan Nasional.

Seiring dengan terjadinya integrasi pendidikan Islam ke dalam sistem pendidikan nasional, maka perubahan besar-besaran pun terjadi  pada pendidikan Islam. Dengan adanya integrasi tersebut, Pemerintah memberikan perhatian yang sama terhadap pendidikan Islam. Saat  ini  keadaan madrasah amat beragam. Ada Madrasah sebagai sekolah umum berciri khas agama, Madrasah Keagamaan,  Madrasah Model, Madrasah Terpadu, Madrasah Aliyah Kejuruan, Madrasah bertarap nasional dan  Madrasah bertarap internasional. Seiring dengan perkembangan madrasah tersebut, maka terdapat program peningkatan mutu dan kesejahteraan guru madrasah dan dosen perguruan tinggi Islam, dengan cara memberikan kesempatan mengikuti program sertifikasi guru dan dosen,  memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi dalam bidang ilmu keagamaan dan ilmu umum pada berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia,  bahkan  di luar negeri, seperti ke beberapa perguruan tinggi terkemuka  di Timur Tengah, Amerika, Eropa dan Asia.

Selanjutnya melalui dana pinjaman (loan) dari Asian Development Bank (ADB), Islamic Development Bank (IDB), dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), pendidikan Islam, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi kini sudah banyak yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul, infra struktur yang lengkap, sarana prasarana yang canggih, manajemen yang unggul dan mampu bersaing dengan berbagai lembaga pendidikan umum, baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Berbagai kejuaraan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan, baik pada tingkat nasional maupun internasional, sudah banyak yang diraih oleh para siswa madrasah dan mahasiswa perguruan tinggi Islam.

Tidak hanya itu, peningkatan mutu lulusan  pendidikan Islam juga terjadi pada pendidikan keagamaan, khususnya pesantren. Pada saat ini banyak pesantren yang selain menyelenggarakan pendidikan keagamaan, pendidikan madrasah dan perguruan tinggi agama, juga menyelenggarakan pendidikan umum, mulai dari tingkat dasar hingga sekolah lanjutan umum (SMP). Saat ini, para santri lulusan pesantren bukan hanya menguasai  ilmu agama dan bahasa Arab, melainkan juga menguasai bidang ilmu pengetahuan umum, teknologi komputer, bahasa Inggris, matematik dan berbagai keterampilan kerja lainnya..  Pada tingkat yang lebih tinggi, saat ini, telah banyak pula pesantren yang membuka perguruan tinggi, mulai dari tingkat akademi, hingga universitas. Pada berbagai lembaga yang didirikan di pesantren ini,  tidak hanya menyelenggarakan program  pendidikan keagamaan, melainkan juga program pendidikan umum yang di dalamnya terdapat program studi sain dan teknologi, ekonomi,  perbank-an, pendidikan dokter, keprawatan, psikologi dan lain sebagainya.

Dengan terjadinya peningkatan lulusan  pendidikan Islam ini, seharusnya diikuti  pula dengan peningkatan perhatian dan penghargaan masyarakat, khususnya kalangan dunia usaha,  industri dan jasa terhadap lulusan pendidikan Islam. Dalam hal menerimaan  tenaga kerja atau pegawai misalnya, kalangan dunia usaha, industri dan jasa seharusnya lebih mengutamakan lulusan pendidikan Islam, termasuk madrasah dan pesantren, ketimbang lulusan pendidikan lainnya. Lulusan pendidikan Islam selain memiliki berbagai keterampilan kerja sebagaimana layaknya dimiliki lulusan pendidikan lainnya, juga memiliki akhlak mulia dan kepribadian utama yang paling dibutuhkan dunia kerja. Pendapat para pakar ketenaga-kerjaan saat ini misalnya mengatakan, bahwa mencari orang yang pandai dan terampil saat ini tidak terlalu sulit, dibandingkan dengan mencari orang yang memiliki akhlak mulia dan kepribadian utama. Hasil survei NACE (National Association Colleges and Employers) USA pada tahun 2002 misalnya mengatakan, bahwa kualitas lulusan PT yang diharapkan dunia kerja adalah lulusan yang memiliki kemampuan berkomunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan kerjasama, kemampuan interpersonal, etos kerja yang baik, memiliki motivasi/berinisiatif, mampu beradaptasi, kemampuan analitika, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kemampuan memimpin, percaya diri, berkepribadian ramah, sopan/beretika, IP di atas 3.0, kreatif, humoris dan kemampuan enterpreneurship. Dua puluh kriteria kualitas lulusan yang diharapkan dunia kerja itu, seluruhnya dapat dijumpai pada lulusan pendidikan Islam di masa sekarang.

Dengan adanya peningkatan mutu lulusan pendidikan Islam dan pengaruhnya terhadap kualitas yang diharapkan dunia kerja tersebut, maka  cara pandang  dan appresiasi para pemilik dunia usaha,  industri dan jasa terhadap lulusan pendidikan Islam saat ini sudah seharusnya mengalami perubahan. Pandangan yang keliru terhadap lulusan pendidikan Islam, sebagai lulusan yang tidak sesuai dengan tuntutan dunia, usaha, industri dan jasa sudah harus ditinggalkan. Keengganan para pemilik dunia usaha, industri dan jasa untuk menerima tamatan pendidikan Islam sebagai tenaga kerja atau pegawai pada  perusahaannya, seperti yang banyak dijumpai hingga saat ini, harus sudah ditinggalkan. Kekuatan akhlak mulia dan kepribadian utama, di samping wawasan, penguasaan teknologi dan keterampilan kerja yang dimiliki  lulusan pendidikan Islam, akan dapat memberikan jaminan untuk menyelamatkan dunia usaha dan industri dari krisis dan kebangkrutan perusahaannya.

Tamatan pendidikan Islam memiliki landasan moral, etik dan akhlak mulia yang kokoh dalam bekerja. Kita semua mengetahui bahwa terjadinya krisis ekonomi global saat ini faktor penyebabnya adalah karena krisis moral.  Terjadinya krisis ekonomi tersebut, karena berada di tangan orang-orang yang cerdas akalnya, tapi tidak memiliki akhlak mulia dan dan kecerdasan moral yang baik. Sudah saatnya dunia usaha, industri dan jasa diserahkan kepada orang-orang yang memiliki kesimbangan antara kemampuan wawasan dan keterampilan kerja dengan keluruhan moral, akhlak dan budipekerti mulia. Orang-orang yang demikian dapat dijumpai pada lulusan pendidikan Islam.

Bersamaan dengan itu, para pengelola pendidikan Islam juga harus terus meningkatkan mutu lulusanya, senantiasa melakukan inovasi dan kreasi baru sesuai dengan tuntutan masyarakat, dengan tetap memelihara jati dirinya sebagai pengemban missi ajaran Islam. Berbagai hal yang selama ini dianggap sebagai hambatan yang menyebabkan masyarakat kurang mengenal pendidikan Islam perlu segera diatasi, dengan memberikan penjelasan dan promosi yang lebih jelas. Berbagai istilah yang digunakan pendidikan Islam dan kurang dipahami masyarakat perlu segera diatasi. Beberapa nama program studi pada fakultas yang ada di perguruan tinggi Islam, seperti program studi Dirasat Islamiyah,  Jinayat, Ahwal al-Syakhshiyah, Mu’amalah, dan lainnya perlu didampingi dengan padanan kosakata dalam bahasa Indonesia yang lebih familiar. Masyarakat, khususnya kalangan dunia usaha, industri dan jasa misalnya kurang mengenal istilah-istilah tersebut, yang sesungguhnya sangat berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Jakarta, 1 Juli 2009

Problematika Agama pada Masyarakat Perkotaan

web administrator fitk No Comments »

Dewasa ini perhatian masyarakat terhadap kajian agama agak memperihatinkan. Bulan yang lalu saya mengunjungi keluarga yang akan merayakan walimahan pernikahan di salah satu desa di Kabupaten Bogor. Lalu saya bertanya: Apakah ada acara pengajian agama dalam acara walimahan tersebut? Keluarga saya menjawab: ”Sekarang ini acara pengajian agama sudah kurang diminati. Minggu lalu, pernah mengundang ada yang mengundang penceramah untuk acara walimahan, tapi penceramahnya balik lagi. Dengan agak jengkel penceramah itu bertanya: ”Apakah saya harus ceramah dengan kursi kosong? ”

Ceramah keagamaan yang masih eksis dan semarak sampai sekarang, masih dapat dijumpai pada acara shalat Jum’atan. Hal ini terjadi karena shalat Jum’at merupakan kewajiban bagi kaum muslimin yang menetap (mukimin). Namun, pada umumnya jama’ah shalat Jum’at ingin agar khutbah Jum’at tidak terlalu panjang. Indikator menurunnya minat pada kajian agama ini, dapat pula dilihat dari semakin menurunya calon mahasiswa untuk memasuki program studi agama. Selain itu, pengajian agama terkadang masih ada, jika dibarengi dengan acara arisan, penggalangan masa untuk kepentingan politik, ulang tahun, dan kegiatan lainnya yang bersifat non-keagamaan.

Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan menurunnya minat terhadap kajian agama, yang antara lain disebabkan terjadinya perubahan psikologi masyarakat dari agraris kepada urbanis atau perkotaan. Masyarakat perkotaan setiap hari harus terlibat dalam berbagai permasalahan, bersaing dalam mendapatkan berbagai peluang. Di perkotaan segala sesuatu harus dilakukan dengan serba cepat, tepat, profesional, cerdas dalam membagi waktu dan menentukan pilihan. Selain itu masyarakat di perkotaan cenderung semakin pragmatis ekonomis, dan mudah stress, khususnya ketika mereka gagal dalam bersaing memperebutkan berbagai peluang.

Selain itu, karena terbatasnya waktu, masyarakat perkotaan cenderung menyerahkan sebagian tugasnya kepada kalangan profesinal. Menjamurnya restoran atau warung makanan siap saji, atau yang langsung bisa dipesan ke rumah, jasa cuci pakaian, jasa pengurusan surat-surat berharga, jasa penitipan Balita, dan jasa outsourcing lainnya merupakan bukti, bahwa masyarakat perkotaan sudah kurang memiliki waktu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat domestik.

Perubahan ke arah pola hidup perkotaan yang demikian itu sering tidak diimbangi dengan karakter kajian keagamaan. Kajian keagamaan yang ada saat ini pada umumnya masih bersifat normatif dan literalis, kurang mengkomunikasikannya dengan berbagai permasalahan aktual dan mendesak, kurang bersentuhan dengan permasalahan yang mereka hadapi, sehingga penyajian agama kehilangan daya relevansinya. Model penyajian agama yang demikian itu sudah tidak sesuai lagi dengan karakter masyarakat perkotaan. Agama sebagai faktor motivator, dinamisator, katalisator, inspirator, dan sublimator sudah tidak efektif lagi bagi masyarakat perkotaan. Sementara itu dari kalangan para penyaji agama, di samping kurang memiliki wawasan yang cukup terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat perkotaan , juga sudah tidak memiliki waktu dan motivasi yang memadai untuk mengatasi problema yang dihadapi masyarakat perkotaan. Dalam keadaan kurangnya minat masyarakat terhadap kajian keagamaan, maka tidak sedikit di antara tokoh agama yang terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota legislatif, terjun ke dunia bisnis dan lain sebagainya.

Masyarakat perkotaan yang dalam keadaan mudah stress itu seolah-olah dibiarkan menghadapi masalahnya sendiri. Dalam keadaan demikian, tidaklah mengherankan jika bermunculan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai tokoh spiritual yang memiliki kekuatan magis yang dapat mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat. Dalam makalahnya berujudul Pendekatan Sosiologis yang dimuat dalam Peter Conolly (ed), Approaches to the Studi of Religion (2002:295), Michael S. Northcott, menyebutkan beberapa gerakan keagamaan baru (New Religiuos Movement=NRM) dengan pengikutnya yang luar biasa di Eropa dan Amerika Utara, mengambil praktik-praktik dan ide keagamaan Timur, kebanyakan berasal dari anak benua India, meliputi Brahma Kumaris, Kare Krisna, Rajneeshism (Osho), Sahaja Yoga, dan Sai Baba. Beberapa NRM dikaitkan dengan ajaran-ajaran pimpinan keagamaan atau nabi tertentu seperti Ron Hubbard (Scientology), Moses David (Children of God or the Family), John Wimber (Vineyard Christian Fellowship), dan Maharishi Yogi (Transendental Meditation). Lebih lanjut Northcott mengatakan, bahwa NRM cenderung berkembang dalam masyarakat yang telah mengalami tingkat industrialisasi dan urbanisasi tertentu. (Ibid:2002:295). Dengan kata lain, bahwa munculnya gerakan keagamaan baru dengan berbagai tokohnya, seperti yang terjadi juga di Indonesia, seperti Lia Eden, Mohammad Mozadek yang mengaku nabi, bukanlah terjadi di pedesaan, melainkan terjadi di perkotaan.

Selanjutnya jika keadaan tersebut dihubungkan dengan lahirnya agama-agama besar di dunia, maka dapat dikatakan bahwa seluruh agama pada umumnya lahir dalam masyarakat perkotaan yang mengalami chaos. Nabi Isa as misalnya lahir di kota Yerussalem yang keadaan masyarakatnya dalam keadaan materialistic. Demikian pula Nabi Muhammad SAW juga lahir di kota Mekkah yang saat itu menjadi pusat perdagangan (comercial center) yang masyarakatnya cenderung menghalalkan segala cara.. Dalam hubungan ini, Mongomery Watt pernah berkata, bahwa Mekkah merupakan kota dagang yang bertarap internasional. Hal ini diuntungkan oleh posisinya yang sangat strategis karena terletak di persimpangan jalan yang menghubungkan jalur perhubungan dan jaringan bisnis dari Yaman ke Syiria dan dari Abyssinia ke Irak. Menurut Watt dalam Muhammad at Mecca sebagaimana dikutip oleh Faisal Ismail dalam Pijar-pijar Islam, (2002:6 & B), bahwa perdagangan Mekkah merupakan faktor yang sangat penting dan dominan bagi kemunculan dan kebangkitan Islam. Masyarakat Mekkah yang berprofesi sebagai masyarakat urban dan perdagangan itu memiliki ciri-ciri sebagai masyarakat urban pada umumnya sebagaimana tersebut di atas. Itulah sebabnya tidak mengherankan jika ayat-ayat Al-Qur’an yang turun di Mekkah banyak berbicara tentang akidah dan moralitas atau akhlak mulia. Kebiasaan para pedagang pada umumnya yang suka mengurangi takaran, timbangan, membungakan uang, menipu, memeras, memperbudak, bersumpah palsu, melalaikan ibadah menjadi perhatian utama ayat-ayat yang turun di Mekkah. Bahkan panggilan untuk shalat Jum’at misalnya menggunakan sampling para pedagang (Q.S. Al-Jumu’ah,

Munculnya gerakan keagamaan baru sebagaimana tersebut di atas, nampaknya kurang diantipasi oleh kalangan para penyiar agama atau para da’i pada khususnya, dan oleh kalangan penyelenggara pendidikan studi agama pada umumnya. Untuk itu upaya mengatasi gerakan keagamaan bukan semata-mata dilakukan dengan cara menghujatkan gerakan keagamaan tersebut, melainkan agar lebih ditekan pada mengatasi sebab-sebab munculnya gerakan keagamaan tersebut secara arif dan komprehensif, yang antara lain, dengan menyajikan kemasan penyajian agama yang sejalan dengan perubahan ke arah psikologi masyarakat perkotaan yang ciri-cirinya disebutkan di atas.

Faktor lain yang menyebabkan menurunnya minat masyarakat terhadap kajian keagamaan adalah, karena peran dan fungsi information technologie (IT) yang menggeser peran komunikasi secara verbal peace to peace (saling berhadap-hadapan) sebagaimana yang umumnya dilakukan para da’i.. Saat ini masyarakat dengan mudah dapat memperoleh bahan-bahan kajian keagamaan yang terdapat dalam buku, majalah, surat kabar, kasset, CD, televisi dan peralatan IT lainnya. Berbagai sarana informasi dan komunikasi ini dengan mudah dapat diakses oleh masyarakat, kapan saja, dan di mana saja mereka mau. Mereka tidak usah repot-repot lagi datang ke majelis ta’lim, masjid, lembaga pendidikan. Semua hal tersebut telah digantikan perannya oleh peralatan informasi dan teknologi. Dalam hal ini, yang kehilangan penggemar sesungguhnya bukan hanya para da’i, melainkan juga sarana hiburan. Gedung bioskop juga sudah banyak yang bubar atau gulung tikar, karena sudah tidak dibutuhkan lagi oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa IT telah merubah mindset (pola pikir) masyarakat, menggeser peran-peran agent spiritual, seperti para da’i dan sebagainya. Dalam keadaan yang demikian, agama harus mampu memanfaatkan berbagai peralatan teknologi komunikasi, sehingga jangkauan dakwahnya makin luas, yakni tidak hanya bersifat lokal, nasional, atau regional, melainkan bersifat internasional. Untuk itu para penyiar agama harus menguasai peralatan teknologi komunikasi. Mereka harus akrab dengan e-mail, faximile dan lain sebagainya. Untuk itu, perlu diketahui, seberapa banyak para da’i yang menguasai IT; dan bagi yang belum menguasai IT, agar diberikan latihan atau pembekalan dalam bidang IT. Dengan penguasaan IT, maka para da’i juga dapat mengawasi dan mengontrol penggunaan IT untuk berbagai keperluan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam keadaan yang demikian, penyiar agama di masa depan ditantang untuk mampu menghadirkan ajaran agama yang transformatif, yaitu ajaran agama yang memiliki akses dalam mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia, beresonansi dan bervibrasi ke dalam mindset (pola pikir) dan pola tindak masyarakat, serta mengalirkan energi positif ke dalam wawasan, sikap dan emosi manusia. Melalui penyajian agama yang transformatif ini akan dapat dicapai missi agama yang humanis, liberasi, transendensi dan kultural. Dengan demikian, kehidupan manusia akan memiliki visi transendental, tujuan hidup jangka panjang, dan lebih bermakna. Pendekatannya dapat ditempuh dengan cara yang lebih humanis, menarik, menyenangkan, menggairahkan, efektif, inovatif, partisipatif, aktual dan kontekstual. Sementara itu program bimbingan kehidupan beragama, uswatun hasanah (teladan hidup yang baik), malam ibadah, pesantren kilat, laboratorium pendidikan agama, atmosfir religius, serta hubungan timbal balik antara masyarakat dan lembaga pendidikan agama agar ditingkatkan.

Membangun Kembali Kejayaan Bahasa Arab

web administrator fitk No Comments »

Bahasa Arab pernah mengalami kejayaan pada zaman klasik Islam (abad ke-7 sd 13 M), karena selain digunakan sebagai bahasa agama, bahasa Arab juga digunakan untuk komunikasi sehari-hari, kegiatan politik, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kini bahasa Arab hanya digunakan untuk kegiatan agama, sedangkan untuk kegiatan lainnya sudah menggunakan bahasa asing lainnya. Adalah suatu hal yang sangat ironis, jika bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tidak menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi, interaksi, kegiatan politik, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Kini saatnya kita membangun kembali kejayaan bahasa Arab dengan menyelenggarakan pendidikan yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Arab, seperti pada pesantren Gontor, Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta, dan lainnya.

Kepemimpinan

web administrator fitk No Comments »

Dalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan Abdullah ibn Umat, Nabi Muhammad bersabda, bahwa setiap kamu sekaliah adalah pengembala, dan setiap pengembala akan ditanya tentan pengembalaannya. Seorang imam adalah pemimpin, dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya, dan ia akan ditanyai tentang kepemimpinannya; seorang istri adalah pemimpin atas harta suaminya, dan ia akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta majikannya, da ia akan ditanyai tentang kepemimpinannya, dan seorang anak adalah pemimpin atas harta orang tuanya, dan ia akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Semua kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Dalam hadis tersebut ada 4 fungsi pemimpin. Pertama mencarikan tempat yang subur (fat finding), mengarahkan (direction), mengawasi (controling), dan melakukan perenungan (reflection) atas tugas-tugasnya.

Pendidikan di Persimpangan Jalan

web administrator fitk No Comments »

Perjalanan pendidikan dari sejak sebelum masehi selalu berada dalam berbagai tarikan, yaitu tarikan filsafat, sebagaimana dijumpai pada Zaman Yunani Kuno, tarikan agama, sebagaimana  terlihat pada zaman pertengahan, tarikan ilmu pengetahuan, sebagaimana terjadi pada zaman renaissance, tarikan politik, sebagiamana terlihat pada zaman Dinasti Soghun di Jepang atau di zaman Orde Bara, dan tarikan ekonomi pasa bebas sebagaimana terlihat sekarang ini.

Tugas Pemimpin

web administrator fitk No Comments »

Dimuat pada REPUBLIKA – Kolom HIKMAH (Senin, 07 Desember 2009)

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda, ”Tiap-tiap kamu adalah penggembala, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas penggembalaannya.”

Hadis tersebut mengingatkan, pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin yang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di dunia ini, dan di hadapan Allah SWT, di akhirat nanti.

Para nabi dan rasul pada umumnya pernah bekerja sebagai penggembala. Secara lahiriah, pekerjaan ini tampak tidak bergengsi, bahkan tergolong pekerjaan rendahan. Namun, jika dihayati secara seksama, menggembala ternak mengandung nilai pendidikan kepemimpinan yang amat dalam.

Pertama, penggembala harus menyediakan rumput yang hijau dan subur bagi hewan ternaknya, sehingga hewan ternak tersebut terpenuhi kebutuhan makannya dan sejahtera hidupnya. Badannya gemuk, pertumbuhan fisiknya baik, tenaganya kuat, dan jiwanya tenang.

Dalam dunia kepemimpinan, hal ini dikenal dengan fungsi path-finding, yakni mencarikan jalan keluar yang benar. Yaitu, menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan rakyat yang dipimpinnya, sehingga rakyatnya menjadi makmur dan sejahtera.

Kedua, penggembala harus mampu mengarahkan atau menggiring hewan ternaknya ke padang gembalaan yang bukan milik orang lain, yaitu padang gembalaan yang aman dan halal. Penggembala harus memastikan rumput yang masuk ke dalam perut binatang ternaknya bukan rumput yang haram, agar hewan itu membawa berkah. Dalam dunia kepemimpinan, tugas ini dikenal dengan istilah directing. Yaitu, mengarahkan rakyat yang dipimpinnya agar berada di jalan yang lurus.

Ketiga, penggembala harus mampu mengawasi agar hewan ternaknya tidak tersesat atau tidak terpisah dari kelompoknya. Hewan yang tersesat tidak akan bisa pulang, ia akan terlunta-lunta, menderita kesulitan, bahkan terancam bahaya kematian. Dalam dunia kepemimpinan, hal ini termasuk ke dalam fungsi controlling. Yaitu, mengawasi rakyat yang dipimpinnya agar tidak terjerumus ke dalam kehidupan yang membahayakan.

Keempat, penggembala harus melindungi hewan gembalaannya dari berbagai hal yang membahayakan, seperti dari binatang buas, pencuri, dan wabah penyakit. Dalam kepemimpinan usaha ini termasuk ke dalam fungsi protecting atau melindungi.

Kelima, penggembala setiap saat harus melakukan refleksi, perenungan, dan berpikir secara jernih dan jujur untuk menemukan cara-cara yang efektif dan efisien dalam melaksanakan fungsi-fungsinya sebagaimana tersebut di atas. Inilah tugas-tugas pemimpin yang seharusnya dipahami, dihayati, dan diamalkan.

Designed by Stif_Blass Stif_Blass Themes.
Images by Harlindawarsa.